Bisakah Cerita Detektif Bertahan Menghadapi Perkembangan Zaman?

“…And do not spy or backbite each other.”
(Quran, Al-Hujurat, 49:12)

DETEKTIF adalah sebuah eksakta. Orang tersebut selalu memerlukan proses ketika dihadapkan pada sebuah penyelidikan. Ia tahu usahanya takkan berakhir sempurna bila ia sekadar menyelesaikannya dengan tergesa-gesa. Ia butuh apa yang kita namakan kepastian. Untuk mendapatkan kepastian tersebut, dalam setiap penyelidikan, kita tahu tentunya selalu ada peraturan—bahkan yang paling ketat sekalipun—yang menyertainya. Terkadang peraturan itu membuat mereka, para intelijen itu, harus mempertaruhkan nyawa mereka. Berdiri di atas tebing, memandang ke bawah, sambil mengacungkan pistol ke arah itu pula.
Dalam hal pengamatan pun, kepastian selalu menjadi hal yang paling banyak dicari-cari. Itu sebabnya Sherlock Holmes menolak untuk membuat pengecualian—dia tak ingin penilaiannya dikacaukan oleh kualitas pribadi seseorang. “Aku tidak pernah membuat pengeculian,” jelasnya. “Pengecualian merusak peraturannya.”
Sebuah penyelidikan takkan menemui titik terang bila ia dijalankan berdasarkan tebakan. Lagi-lagi, ia butuh kepastian. Terkadang seseorang merasa lebih mudah untuk menilai sesuatu berdasarkan prasangka yang dibuatnya sendiri, daripada harus (repot-repot) merangkai fakta-fakta secara berurutan sampai hal-hal yang terkecil.
Biarkan saya membuat sebuah contoh: Seorang suami menghabiskan waktunya hanya untuk mencurigai istrinya secara berlebihan setelah dia mendapati istrinya yang pendiam itu tiba-tiba pulang dengan menggunakan motor milik rekan kerjanya. Apa yang dilakukan seorang suami tersebut adalah berprasangka. Dengan kata lain, dia mengabaikan kemungkinan-kemungkinan.
Fakta-faktanya: (a) istrinya pulang untuk mengambil dokumen yang ketinggalan, (b) ban sepeda motor milik wanita itu mendadak bocor, (c) rekan kerjanya yang perempuan sedang absen, maka dari itu ia meminjam motor milik rekannya yang laki-laki. Itu sebabnya Sherlock Holmes menolak untuk dikatakan telah menebak oleh Watson ketika detektif itu berhasil menyelidiki sesuatu. “Aku tidak pernah menebak,” ujarnya. “Menebak itu merusak kebiasaan berpikir secara logis.”
Kini saya bayangkan saya sedang berdiri di dalam keremangan terowongan fiksi yang panjang. Di dalamnya, dengan ketidaksengajaan saya mendapatkan sekotak korek api. Kemudian saya menggeretnya hati-hati, dan membagikan apinya kepada salah satu sumbu obor dalam terowongan fiksi detektif itu. Dengan harapan supaya terowongan panjang tersebut tidak gelap dan bisa menjadi lebih terang seiring berjalannya waktu. Kita tahu, di zaman sekarang, hidup ini seakan-akan diberondong dengan serentetan perubahan yang demikian cepatnya oleh kecanggihan dunia. Cerita detektif yang dulu dibaca dengan kebangaan, kini ia bisa saja diabaikan begitu saja setelah selesai dibaca oleh pemuda zaman sekarang.
Apa yang dulu mereka—para penulis zaman dulu—banggakan dalam ‘ilmu pengetahuan deduksi’ telah diinterupsi oleh teknologi; katakanlah CCTV, juga sejumlah alat pendeteksi kebohongan. Tapi kita tidak lantas menyalahkan CCTV. Sebaliknya, dengan kehadiran kamera mungil itu, seorang pimpinan perusahaan jadi dapat dengan mudah memantau aktivitas setiap karyawannya di kantor. Begitu juga dengan ‘lie detector’.
Dan, kita harus ingat juga bahwa seandainya tidak terdapat satu CCTV pun di ruangan kantor itu, maka bukan berarti seseorang akan mengalami kesulitan untuk mengetahui jalannya dari aktivitas tersebut. Terlepas dari definisi deduksi yang sesungguhnya, atau deduksi yang selama ini dikenal dalam bidang matematika, metode deduksi dan observasi dalam dunia detektif agaknya pertama kali dicetuskan oleh Poe melalui tokoh fiksinya Auguste Dupin. Lalu, bisakah cerita detektif—yang di dalamnya terdapat metode deduksi—terus bertahan menghadapi perkembangan zaman? Saya kira jawabnya bisa. Tergantung pada siapa yang menulis cerita.

***
SAYA pernah membaca The Absence of Mr. Glass dalam bahasa Indonesia. Ketiadaan Mr. Glass. Cerpen karangan G.K Chesterton yang pertama kali dipublikasikan di McClure’s Magazine pada November 1912 itu, menurut saya, terasa agak tak menarik lagi jika dibaca di zaman ini. Alih-alih seperti Sherlcok Holmes yang dapat mengidentifikasi karakter seseorang melalui berbagai metode pengamatan yang dapat diterima pembaca, Pastor Brown, tokoh detektif rekaan Chesterton, dalam cerpen tersebut, sekali lagi menurut saya, justru tampak seperti malaikat yang bisa mengetahui hanya dengan beberapa pengamatan atau dengan metode intuisi. Dalam cerpen itu diceritakan bahwa Pastor Brown mendatangi Dr. Hood. Dia minta tolong kepada dokter yang bisa berdeduksi itu untuk menangani sebuah kasus asmara. Maggie MacNab dan Todhunter ingin menikah tapi ibu dari gadis itu tidak akan membiarkan mereka bertunangan. Todhunter tinggal di penginapan milik ibu Maggie. Kita tahu kamar lelaki tersebut menyimpan misteri. Cerita menjelaskan mengenai dua suara yang terdengar berbicara di dalam, tapi ketika pintu dibuka, Todhunter selalu didapati sendirian.
Suatu waktu Maggie mendapati Todhunter terbaring di kamar. Ia segera meminta bantuan kepada dua orang tersebut. Maggie menjelaskan bahwa lelaki itu dibunuh. Sebelumnya, dari luar, ia telah mendengar dua suara yang berbicara dalam kamar lelaki itu. Yang pertama ialah suara Todhunter. Yang terakhir ialah suara dari seseorang bernama Mr. Glass. Ia tahu karena mendengar Todhunter menyebut-nyebut nama itu. Di kamar, tak hanya terdapat seorang lelaki yang terbaring dengan syal terikat di mulutnya dan tujuh utas tali yang terbuhul melingkari siku dan pergelangan kakinya, tapi juga dua buah gelas untuk minum anggur yang berdiri di atas meja, topi tinggi sutra yang menggelinding, dan pisau atau sebilah pedang yang tergeletak.
Sang dokter bersikeras topi itu milik Mr. Glass. Dan Mr. Glass telah pergi membawa luka di bagian tubuhnya, sebab ada sedikit darah di pisau tapi tak didapati tanda-tanda luka di tubuh Todhunter. Dia juga berpendapat bahwa Todhunter sendirilah yang membuat simpul-simpul tali itu (Ini benar!) Dan pada akhirnya, Pastor Brownlah yang dapat mengetahui fakta yang sesungguhnya melalui intuisinya—mengalahkan metode deduksi rivalnya. Dia mengatakan Mr. Glass sebenarnya tak pernah hadir. Singkatnya, pedang, pisau, gelas, topi, dan tali adalah peranti. Todhunter sedang belajar menjadi seorang pesulap profesional, sekaligus seorang juggler, juga ventriloquis, dan seorang yang ahli dalam trik menggunakan tali.
Juggling, singkatnya, adalah sebuah atraksi melempar objek. Todhunter melempar gelas sambil mengatakan ‘Mr. Glass’, atau yang lebih tepatnya adalah miss Glass—luput satu gelas. Juggling juga menjelaskan tentang darah di pisau. Todhunter menelan pisau tersebut. “Berhubung masih dalam tahap latihan, bagian tenggorokannya tergores sedikit oleh senjata itu,” jelas pastor Brown dalam hal. 24 dalam The Adventures of Detective Brown terbitan VisiMedia. Sedangkan Ventriloquisme adalah seni berbicara dengan suara perut. Todhunter berbicara dengan suara aslinya, lalu menjawab dirinya sendiri dengan suara palsu. Dan tak lama kemudian, semua orang tertawa. Sosok itu melepaskan dirinya dari ikatan dan melangkah maju, membungkuk, dan mengeluarkan sesuatu dari sakunya: Sebuah poster yang mengumumkan bahwa akan ada pertunjukan sulap dan hiburan lainnya di Empire Pavilion.
Kesimpulan yang bisa kita ambil dari cepen itu: Cerpen tersebut tampak menarik. Tapi di abad ke-21 ini, di mana teknologi sudah berani dengan lantang dan terang-terangan merambati pelosok perdesaan, jika kita menulis cerita dengan penyelesaian kasus seperti cerita itu, kemungkinan besar kita akan jadi bahan tertawaan bagi pembaca. Yang lebih buruk lagi, kita bisa dianggap membodohi pembaca. Cerpen tersebut tampak menarik pada zamannya. Tapi, di situ terlihat bahwa penulis seolah-olah hanya ingin memberitahu pembaca mengenai kehebatan tokoh fiksinya; dengan kehadirkan Pastor Brown, berakhirlah semua masalah. Seolah-olah saksi-saksi tak diperlukan lagi.
Lalu, bagaimana caranya menulis cerita detektif yang bisa kuat bertahan—mungkin tak perlu melawan—perkembangan zaman? Maka untuk itu, saya akan membagikan tiga tips singkat, sambil pelan-pelan mengakhiri artikel ini.

1) Belajar dari ahlinya.
Sherlock Holmes, Hercule Poirot, Miss Marple adalah contoh dari tokoh-tokoh fiksi yang bisa bertahan selama ini. Belajarlah dari ahlinya; mereka yang telah menulis cerita yang menampilkan tokoh-tokoh tersebut. Belajarlah bagaimana mereka meletakkan petunjuk. Belajarlah bagaimana mereka menghibur pembaca dengan menghadirkan deduksi yang dapat diterima nalar. Dan, tentu saja, jangan lupa untuk menambah daftar bacaan Anda; buku-buku detektif, non-stop action, ataupun misteri.

2) Jangan membodohi pembaca.
Dalam cerita detektif, kita seringkali mendapati sebuah kasus pembunuhan yang ‘biasa’. Dan barangkali kita benci menjadi ‘luar biasa’. Ada sebuah pembunuhan. Yang dibunuh adalah orang bernama A. Orang yang paling dicurigai adalah si B. Yang diselidiki adalah orang-orang bernama D, E, F, G, juga B. Eh, ternyata yang jadi tersangka malah seorang C. Apakah kasus yang demikian itu kerap terjadi di dunia nyata? Faktanya: Terkadang jalannya pembunuhan di dunia nyata tidak serumit cerita detektif. Dengan demikian, berpikir realistis juga tetap diperlukan dalam menulis cerita-cerita tersebut.

3) Hadirkanlah sebuah inovasi.
Seiring kemajuan zaman, pembaca akan mengharapkan datangnya cerita dengan tema yang lebih menarik lagi dari sebelumnya. Sebuah thriller yang memukau. Dengan kata lain, sebuah kisah detektif yang tak lagi melulu bercerita pengusutan mengenai siapa yang membunuh dan siapa yang terbunuh.

ARIF SYAHERTIAN
TULUNGAGUNG, EAST JAVA
Telah selesai ditulis pada 17 – 11 – 2016

Apakah Keonaran adalah Sebentuk Kemunduran?

“Sir John Ballinger menderita delirium dan selalu mengamuk seperti setan. Menempati kamar atas, dia berbaring dengan sepucuk revolver dalam selimutnya. Dia bersumpah akan menembakkan keenam pelurunya kepada siapa saja yang berada di dekatnya. Kini dia mungkin sedang tidur.”
Kurang lebih itulah penjelasan singkat dari tokoh Lord Roxton, seorang penjelajah yang sudah mengenal kawasan Amazon, ketika hendak mengajak Edward Malone naik ke kamar atas untuk merebut pistol dan memberi makanan pada Ballinger.
Dalam The Lost World karya Sir Arthur Conan Doyle tersebut diceritakan bahwa Malone bukan orang yang benar-benar berani. Namun demikian, dalam hati, Malone mengatakan bahwa dia bahkan akan melompat ke dalam sebuah jurang, jika keberaniannya untuk melakukan itu dipertanyakan. Akhirnya, meski setiap syaraf dalam tubuhnya gemetar lantaran membayangkan sosok dalam kamar atas itu, dia tetap menjawab sesantai mungkin bahwa dia siap membantu Lord Roxton.
“Kalau hanya berbicara saja, tidak akan selesai,” katanya sambil berdiri—yang segera diikuti oleh lawan bicaranya. Lalu, tanpa diduga sebelumnya, sambil tertawa Lord Roxton menepuk dada Malone tiga kali dan mendorongnya untuk duduk kembali.
Ini menarik: saya kira cara menguji Lord Roxton sangat memukau. Di situ, Malone pun berhasil lulus ujian dengan baik—sebelum akhirnya mereka bergabung dengan dua sosok professor untuk menulusuri jejak-jejak dan keberadaan makhluk prasejarah ke Sungai Amazon hingga terdampar di Negeri yang Hilang, The Lost World.
Lord Roxton memang “percaya” kepada Malone, tetapi dia ingin “mengujinya”. Dua kata tersebut saya pinjam dari peribahasa lama Rusia yang kemudian diadopsi oleh presiden Amerika Serikat ke-40 Ronald Reagan, doveryai no proveryai, Trust but Verify.

Sir Arthur Conan Doyle (1859-1930), melalui tokoh Malone, telah berhasil menginspirasi saya—untuk jadi orang yang lebih berani menghadapi tantangan. Memang saya tak bisa lepas sepenuhnya dari sifat penakut, tetapi setidaknya novel itu telah berhasil mengobarkan api keberanian dalam diri saya yang sempat redup.

Ir. Soekarno pernah berkata, “Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.”
Saya tidak tahu apakah pernyataan presiden pertama Republik Indonesia itu masih punya relevansi dengan keadaan pemuda zaman sekarang atau tidak.
Di era teknologi ini, kebanyakan pemuda lebih suka menghabiskan waktu dengan melakukan hal-hal yang kurang memberi manfaat; bermain game online atau sosial media hingga tak kenal waktu, mendeklarasikan bentrok antar geng atau tawuran, mengadakan pesta mabuk-mabukan hingga larut malam.
Bahkan, tak jarang, ada orang yang meneruskan kuliah hanya untuk menuruti gengsi saja. Duduk di bangku universitas tetapi alergi terhadap buku-buku. Duduk di bangku universitas tetapi sering mengantuk saat mendengarkan dosen mengajar.

Saya ingin belajar dari Agatha Christie (1890-1976). Ratu kriminal tersebut dikabarkan tidak pernah bersekolah. Ibunya mendidik Agatha kecil, mendorong minat menulisnya, dan sengaja mendatangkan seorang tutor untuk mengajarnya.
Suatu hari kakaknya, Madge, pernah menantangnya untuk menulis cerita detektif. Namun Agatha tak patah semangat. Dia mulai menulis dan terus menulis. Hingga, dia berhasil menjawab tantangan tersebut dengan terbitnya novel detektif pertamanya, The Mysterious Affair at Styles.
Kini, kita tahu Agatha Christie telah menghasilkan puluhan novel detektif. Bahkan, menjelang akhir usianya, pada tahun 1971, dia sempat dianugerahi gelar Dame Commander of the British Empire.

Pemuda-pemuda yang diharapkan Bung Karno, saya kira, adalah mereka yang punya jiwa kuat seperti Malone itu. Juga semangat yang membara seperti Agatha. Bukan jiwa yang lemah, bukan mental—katakanlah—tempe. Jika Bung Karno berhasil mengumpulkan sepuluh orang seperti Malone dan Agatha, saya kira, tidak akan menutup kemungkinan bagi Bung Karno untuk mengguncangkan dunia.

Saya tidak ingin berlaku tidak adil dengan hanya menguraikan sisi buruk para pemuda.
Di luar, kita tahu banyak pemuda-pemudi hebat yang “bersembunyi”. Menghindari sorotan publikasi.
Mungkin sebagian dari mereka sangat rendah hati, seperti Sherlock Holmes yang bisa memecahkan kasus, tetapi kadang menolak untuk disebutkan namanya.
Mungkin sebagian dari mereka ingin membuat kejutan pada dunia.
Barangkali dia adalah seorang perempuan, yang sekarang sedang duduk sambil membaca buku sendirian di perpustakaan. Mencari inspirasi dan referensi untuk novel thriller yang sedang ditulisnya.
Barangkali dia adalah seorang laki-laki, yang sekarang sedang bermain sepak bola sendirian di lapangan. Mengasah lagi dan lagi segenap kemampuannya untuk seleksi yang akan dihadapinya.
Kita tidak tahu bagaimana nasib mereka di masa datang. Seorang yang pertama bisa saja jadi penulis yang mengguncang dunia lewat karya inspiratifnya. Seorang yang kedua bisa saja mengguncang dunia lewat kemampuannya menggocek dan mengolah si kulit bundar.

Di luar, barangkali ada seorang pemuda yang sangat pandai berdebat, tetapi dia sengaja tidak menggunakan kemampuannya. Tahu bahwa perbuatan itu tak banyak memberi manfaat.
Dia mungkin adalah seorang laki-laki, yang sekarang sedang duduk menonton berita di televisi. Melihat siaran yang menampilkan pemuda-pemudi masa kini yang berdebat dengan mata melotot, dengan bentakan yang semakin pedas.
Melihat siaran yang menampilkan pemuda-pemudi masa kini yang ricuh di jalanan, yang membakar ban, membuat jalanan macet, meneriakkan protes keras.
Di luar, barangkali ada seorang pemudi yang sangat pandai bela diri, tetapi dia sengaja tidak menggunakan kemampuannya untuk sekadar berkelahi.
Ketika dia sedang pulang larut malam, tiba-tiba sepucuk pistol ditodongkan ke kepalanya oleh seorang dari kawanan begal. Tahu bahwa akibat-akibat tidak menghalanginya untuk membuat pilihan. Sebab, “Merupakan pilihan orang itu untuk patuh untuk menolak,” sebagaimana kata Jean-Paul Sartre (1905-1980). Maka bukan tak mungkin baginya untuk merebut pistol itu dan menembaki semua penjahat itu.
Di akhir novel The Lost World, kita tahu mereka berempat—Malone, Lord Roxton, Prof. Sumerlee, Prof. Challenger—memang berhasil membuat dunia guncang. Sepulang dari Negeri yang Hilang, mereka menunjukkan seekor pterodactyl kepada hadirin di dalam aula di London.
Mereka, yang sebelum pergi dicaci maki, sekarang pulang dengan rasa bangga. Dielu-elukan oleh dunia.

Ada yang lebih menarik: Pada mulanya Malone didorong oleh Gladys, gadis idamannya, untuk melakukan tindakan besar yang heroik, seperti yang telah dilakukan oleh pemuda Prancis yang tetap naik balon, meski angin bertiup sangat kencang. Karena dia telah mengumumkan untuk berangkat, akhirnya dia tetap berangkat. Selama dua puluh empat jam, angin menerbangkan pemuda itu sejauh seribu lima ratus mil dan dia mendarat di tengah Rusia.
Gladys ingin punya suami yang heroik seperti itu. Itulah yang dia inginkan, membuat orang iri hati karena kekasihnya.
Bahkan, keberangkatan Malone untuk ikut menjelajah ke Negeri yang Hilang itu juga lebih karena untuk Gladys.
Kini, setelah Malone punya tempat di dunia, Gladys malah mengabaikannya—bahkan telah menikah dengan pria lain. Pada akhirnya, Edward Malone memilih untuk ikut Lord Roxton menjelajah kembali.

Kita seringkali dihadapkan pada sensasi atau keonaran. Tentang orang biasa yang terkenal secara tiba-tiba. Tentang selebritis yang mendadak tanpa henti menghiasi layar kaca.
Apakah keonaran adalah sebentuk kemunduran? Tak diragukan lagi.
Setiap orang punya kesempatan untuk mengguncangkan dunia.
Mencari sensasi adalah menyulut keonaran. Menghasilkan karya adalah menciptakan senjata. Lewat yang terakhir itulah biasanya orang-orang pilihan mengguncangkannya.
Arif Syahertian
12-02-2016
Tulungagung, Jawa Timur.

SEPENGGAL KISAH KITA YANG TERTINGGAL DI BANGKU SEKOLAH DASAR

Kamu peragu. Aku tahu itu. Bahkan ketika perasaan itu muncul lagi, untuk mengungkapkannya, kau tidak benar-benar berani, sehingga seringkali kau hanya berdiam diri, menunggu sesuatu yang tak pasti. Ada yang bilang hidup adalah taman bermain. Dan aku menemukanmu di dalamnya–seseorang yang selalu siap menemaniku bermain apa saja, kejar-kejaran, misalnya. Aku selalu periang–kamu selalu periang. Hidupku bergerak maju seperti peluru. Bahkan, karena terlalu cepat, kadang-kadang, aku tak sempat menengok ke belakang. Sebagai seorang anak kecil, alam bawah sadarku selalu dipenuhi oleh banyak hal; tak terkecuali cinta. Yang terakhir itu agaknya lebih mendominasi, sehingga seringkali mudah terbawa mimpi. Namun demikian, satu hal lain yang ada di benakku yang punya relevansi tapi lama tidak aku sadari adalah bahwa semua waktu yang kupunya tidak pernah terbuang untuk melamunkan cinta itu. Maksudku, sama sekali tidak tebersit dalam benakku untuk bermuluk-muluk menulis surat cinta. Suatu kebiasaan yang, yah, sering dilakukan oleh teman-teman sekolah dasar kita.

Suatu ketika aku bermimpi membaca “Subhanallah” di masjid At-Taqwa. Tiba-tiba kau datang dan menunggu sampai aku selesai membaca. Kemudian kita beranjak pulang jalan kaki berdua. Apa artinya itu? Aku tak tahu. Kita tak pernah benar-benar tahu. Bagus juga, ya, mimpinya, jawabmu senja itu, di atas puncak bukit tempat makam Cina, saat gemuruh angin sore menerpa wajah kita. Aku tidak ingin mengatakan apa-apa tentang mimpi itu, selain bahwa aku berharap ia tidak begitu saja hilang dari pikiran, sebab, meski sudah agak lapuk dan tak segar lagi dalam ingatan, aku masih bisa merasakan sebagian getarannya. Dalam mimpi, akhirnya kita berpisah ketika tiba di persimpangan jalan raya. Sesaat kau menengok ke kiri dan kanan sebelum menyeberang. Kau agak menyipitkan matamu, sebab, cahaya matahari pagi mulai jatuh di wajahmu. Dan aku bisa melihat hidungmu yang tampak lebih simetris dan manis dari samping–terbalut oleh seulas senyum yang tersungging. Aku ingin memanggilmu sekali lagi, tetapi, entah kenapa, pada akhirnya kuurungkan niat itu. Dan di saat-saat seperti itu, sahabatku, aku baru mulai menyadari, betapa ragu-ragunya aku ini.

 

Arif Syahertian
Tulungagung, Jawa Timur 11-01-2016

THE BATTLEFIELD

There is no longer a haven for us who have been away from each other.
You no longer listen me telling. I no longer see you laughing.
There is no longer a meeting for us who have tired of walking.
You no longer see me playing football in the school yard. I no longer see you walking by bringing mukenas to the mosque.
There is no longer the discussions for us to present a contemplation.
You no longer see my sullen mouth. I no longer see your furrowed forehead.

Nevertheless, my friend, all the memories—especially about the way that we have been through and the trail that we have left—were kept well in mind. I hope you also still keeping them; about my voice when singing in front of the class, my laughter when teasing you, my weeping after lost a fight, my smile when looking at a timid face—they all have been colored the days of a child who was stricken by a love slowly. A hasty love is a destroyer factor that will bring into regret in the future.

People never thought, my closest friend, that yesterday you were still standing upright, whereas today you’ve just thrown to the bottom of the deepest valley. God may gives a fluctuating life so that people can appreciate every condition; like when we are sick, perhaps we have forgotten to be grateful that during this time we have been given health, or like when you really feel alone, maybe you have too much wasted the someone’s presence.
Today is should be trying to be better than yesterday. That is a hope that, as you said in elementary school’s desk, will be mumbled by us—our shield to live a life.
Then, be a human who dare to rise up, like a soldier who stepped into the battlefield, like an adventurer who likes to hunt the snakes in the forest.
You must “love” to danger because the battlefield was a wild place which full of temptations and obstacles.
You must be sensitive to any sounds because the battlefield was a place where courage is tested when “the ghosts” really come.
You should stop dreaming because your enemies can more quickly get into your defense area.

Rope, such as a friendship, is weaved not to be separated, spliced not to be disconnected.
So, at least, be an equal person; if you’re irritable, you should also quick to forgive.
Revenge and prejudice are—and if both of them maintained constantly—factors that gradually would undermine the wholeness of the soul.
It’s time to start opening a new chapter—stop regretting what has passed—and climbing the cliff bravely till you can get out from that valley of regret.

Arif Syahertian
22-08-2015
Tulungagung, Jawa Timur.

PS: I tried to translate my writing into English—even though my English looks poor.
The original title was Medan Perang, which was written in Indonesian.

LOOK BACK AND LAUGH

Catatan ini hanyalah semacam tanda bahwa aku pernah melewati apa yang telah berlalu dari hari ini. Maka aku tak perlu menghapusnya, sebab supaya kelak aku bisa menengoknya kembali. Tetapi aku tak ingin menjadi orang yang memandang ke belakang, “look back”.
Maka bila suatu hari aku memperbaharui banyak dari tulisan ini–bahkan menghapusnya–maka aku bisa masuk ke dalam kategori orang yang memandang ke belakang, “look back”. Hmmm.
Masa lalu terasa menarik untuk ditulis kembali. Begitulah.
Seperti sebuah lirik milik Linkin Park dalam lagu Blackout.
“a future gazing out / a past to overwrite.”

Memang tanda tak harus diabadikan ke dalam bentuk catatan. Kalau sebuah grup band mengabadikannya ke dalam bentuk suara, aku lebih suka untuk mengenangnya dengan mengabadikannya melalui kata-kata, melalui bahasa…
Bahasa, kata Goenawan Mohamad dalam Tiga Huruf, adalah perekam.
“Itulah sebabnya,” lanjutnya, “catatan harian ditulis, pengalaman dikisahkan, puisi digubah.”

Aku teringat kata-kata George C. Marshall, “When a thing is done, it’s done. Don’t look back. Look forward to your next objective.”
Dengan demikian, kita dapat menyimpulkan bahwa catatan hari ini adalah milik hari ini. Dan karena sudah selesai, “it’s done”, maka ini saatnya untuk berkonsentrasi melihat ke depan.
Sebab, “kita tidak mungkin melihat ke depan sambil melihat ke belakang.” Kira-kira begitulah kata Ludwig Mies van der Rohe, seorang arsitek dari Jerman itu.

NB: Judul di atas terinspirasi oleh salah satu lagu milik Minor Threat, Look Back and Laugh.

Arif Syahertian
29-08-2015
Tulungagung, Jawa Timur.

MEDAN PERANG

Tak ada lagi tempat berteduh bagi kita yang telah saling menjauh. Kau tak lagi mendengarkanku bercerita. Aku tak lagi melihatmu tertawa.
Tak ada lagi pertemuan bagi kita yang telah lelah berjalan. Kau tak lagi melihatku bermain sepak bola di halaman sekolah. Aku tak lagi melihatmu berjalan dengan membawa mukena ke musholla.
Tak ada lagi diskusi-diskusi bagi kita untuk menghadirkan sebuah kontemplasi. Kau tak lagi melihatku cemberut. Aku tak lagi melihat keningmu berkerut.

Sekalipun begitu, sahabatku, semua kenangan—terutama tentang jalan yang telah kita lalui dan jejak yang pernah kita tinggalkan—masih tersimpan dengan baik dalam pikiranku. Aku berharap kau juga masih menyimpannya; tentang suaraku saat bernyanyi di depan kelas, tawaku saat menggodamu, tangisku saat kalah berkelahi, senyumku saat memandang seraut wajah yang malu-malu—itu semuanya yang telah mewarnai hari-hari seorang anak kecil yang dilanda cinta secara perlahan-lahan. Cinta yang tergesa-gesa merupakan faktor penghancur yang akan membawa pada penyesalan di kemudian hari.

Orang tak pernah menyangka, saudaraku, bahwa kemarin kau masih tegap berdiri, sedangkan hari ini kau baru saja terlempar ke dasar lembah paling dalam. Tuhan mungkin memberikan hidup yang fluktuatif supaya manusia bisa menghargai setiap keadaan; seperti saat kita sedang sakit, barangkali kita telah lupa untuk mensyukuri bahwa selama ini kita telah diberikan kesehatan, atau seperti saat kau benar-benar merasa kesepian, barangkali kau telah banyak menyia-nyiakan kehadiran seseorang. Hari ini harus diusahakan untuk bisa jadi lebih baik dari kemarin. Itulah harapan yang, seperti pernah kaukatakan di bangku sekolah dasar, akan gumamkan—perisai sekaligus pedoman kita dalam menjalani kehidupan.

Maka jadilah orang yang berani untuk bangkit, seperti seorang prajurit yang melangkah ke medan perang, seperti seorang petualang yang gemar memburu ular di hutan.
Kau harus “cinta” pada bahaya karena medan perang itu sebuah tempat liar yang penuh godaan dan rintangan.
Kau harus peka pada setiap suara karena medan perang itu sebuah tempat di mana keberanian diuji ketika “hantu-hantu” benar-benar datang.
Kau harus berhenti melamun karena musuh-musuhmu itu bisa lebih cepat masuk ke area pertahananmu.

Seutas tali, sebagaimana sebuah pertemanan, dijalin bukan untuk diuraikan, disambung bukan untuk diputuskan. Maka, setidaknya, jadilah orang yang seimbang; bila kau lekas marah, kau mestinya juga lekas memaafkan. Dendam dan prasangka buruk adalah—dan bila keduanya senantiasa dipelihara—faktor-faktor perusak yang pelan-pelan akan menggerogoti keutuhan jiwa.

Sudah saatnya kau mulai untuk membuka lembaran baru—berhenti menyesali apa yang telah berlalu—dan memanjat tebing dengan keberanian hingga bisa keluar dari lembah penyesalan itu.

Arif Syahertian
22-08-2015
Tulungagung, Jawa Timur.

TENTANG PAGI

Pagi seringkali menghadirkan repetisi; seperti saat aku mendengarkan Linkin Park setiap pagi, atau seperti saat aku berlari dan menjemur diri di bawah matahari.

Tak hanya pengulangan, pagi seringkali menghadirkan keberuntungan-keberuntungan; bangun pagi yang membawa berkah atau rejeki. Kemudian kita bisa melihat banyak hal; petani yang tengah berangkat ke sawah, burung-burung yang hinggap di pelataran rumah, tukang becak yang mengantar seorang ibu pergi ke pasar. Atau, barangkali kita bisa melihat anak laki-laki yang berjalan dengan semangat ke sekolah. Lalu, seorang perempuan menyusulnya dengan malu-malu dari belakang.
Di saat-saat seperti itu, kita tahu bahwa di setiap pagi yang baru selalu tumbuh semangat baru—semacam harapan bahwa kita akan bisa melewati hari ini dengan lebik baik dari kemarin.

Aku sering terlupa tentang apa kata—atau kalimat—pertama yang telah kuucapkan setelah bangun tidur?
Aku sering terlupa apakah itu kalimat syukur pada Tuhan yang menandakan bahwa aku masih diberikan nafas dan kesempatan untuk “melihat” dunia dan memperbaiki kesalahan-kesalahan?

Kemarin telah kulalui—esok tetap menjadi misteri. Hari ini, aku bisa melihat dua anak kecil tengah berjalan sambil mengobrol dan tertawa bersama.

Untuk dirimu yang telah melewati malam dengan sabar, kini saatnya kau bangun dengan kemenangan.

Arif Syahertian
07-08-2015
Tulungagung, Jawa Timur.T