Bisakah Cerita Detektif Bertahan Menghadapi Perkembangan Zaman?

“…And do not spy or backbite each other.”
(Quran, Al-Hujurat, 49:12)

DETEKTIF adalah sebuah eksakta. Orang tersebut selalu memerlukan proses ketika dihadapkan pada sebuah penyelidikan. Ia tahu usahanya takkan berakhir sempurna bila ia sekadar menyelesaikannya dengan tergesa-gesa. Ia butuh apa yang kita namakan kepastian. Untuk mendapatkan kepastian tersebut, dalam setiap penyelidikan, kita tahu tentunya selalu ada peraturan—bahkan yang paling ketat sekalipun—yang menyertainya. Terkadang peraturan itu membuat mereka, para intelijen itu, harus mempertaruhkan nyawa mereka. Berdiri di atas tebing, memandang ke bawah, sambil mengacungkan pistol ke arah itu pula.
Dalam hal pengamatan pun, kepastian selalu menjadi hal yang paling banyak dicari-cari. Itu sebabnya Sherlock Holmes menolak untuk membuat pengecualian—dia tak ingin penilaiannya dikacaukan oleh kualitas pribadi seseorang. “Aku tidak pernah membuat pengeculian,” jelasnya. “Pengecualian merusak peraturannya.”
Sebuah penyelidikan takkan menemui titik terang bila ia dijalankan berdasarkan tebakan. Lagi-lagi, ia butuh kepastian. Terkadang seseorang merasa lebih mudah untuk menilai sesuatu berdasarkan prasangka yang dibuatnya sendiri, daripada harus (repot-repot) merangkai fakta-fakta secara berurutan sampai hal-hal yang terkecil.
Biarkan saya membuat sebuah contoh: Seorang suami menghabiskan waktunya hanya untuk mencurigai istrinya secara berlebihan setelah dia mendapati istrinya yang pendiam itu tiba-tiba pulang dengan menggunakan motor milik rekan kerjanya. Apa yang dilakukan seorang suami tersebut adalah berprasangka. Dengan kata lain, dia mengabaikan kemungkinan-kemungkinan.
Fakta-faktanya: (a) istrinya pulang untuk mengambil dokumen yang ketinggalan, (b) ban sepeda motor milik wanita itu mendadak bocor, (c) rekan kerjanya yang perempuan sedang absen, maka dari itu ia meminjam motor milik rekannya yang laki-laki. Itu sebabnya Sherlock Holmes menolak untuk dikatakan telah menebak oleh Watson ketika detektif itu berhasil menyelidiki sesuatu. “Aku tidak pernah menebak,” ujarnya. “Menebak itu merusak kebiasaan berpikir secara logis.”
Kini saya bayangkan saya sedang berdiri di dalam keremangan terowongan fiksi yang panjang. Di dalamnya, dengan ketidaksengajaan saya mendapatkan sekotak korek api. Kemudian saya menggeretnya hati-hati, dan membagikan apinya kepada salah satu sumbu obor dalam terowongan fiksi detektif itu. Dengan harapan supaya terowongan panjang tersebut tidak gelap dan bisa menjadi lebih terang seiring berjalannya waktu. Kita tahu, di zaman sekarang, hidup ini seakan-akan diberondong dengan serentetan perubahan yang demikian cepatnya oleh kecanggihan dunia. Cerita detektif yang dulu dibaca dengan kebangaan, kini ia bisa saja diabaikan begitu saja setelah selesai dibaca oleh pemuda zaman sekarang.
Apa yang dulu mereka—para penulis zaman dulu—banggakan dalam ‘ilmu pengetahuan deduksi’ telah diinterupsi oleh teknologi; katakanlah CCTV, juga sejumlah alat pendeteksi kebohongan. Tapi kita tidak lantas menyalahkan CCTV. Sebaliknya, dengan kehadiran kamera mungil itu, seorang pimpinan perusahaan jadi dapat dengan mudah memantau aktivitas setiap karyawannya di kantor. Begitu juga dengan ‘lie detector’.
Dan, kita harus ingat juga bahwa seandainya tidak terdapat satu CCTV pun di ruangan kantor itu, maka bukan berarti seseorang akan mengalami kesulitan untuk mengetahui jalannya dari aktivitas tersebut. Terlepas dari definisi deduksi yang sesungguhnya, atau deduksi yang selama ini dikenal dalam bidang matematika, metode deduksi dan observasi dalam dunia detektif agaknya pertama kali dicetuskan oleh Poe melalui tokoh fiksinya Auguste Dupin. Lalu, bisakah cerita detektif—yang di dalamnya terdapat metode deduksi—terus bertahan menghadapi perkembangan zaman? Saya kira jawabnya bisa. Tergantung pada siapa yang menulis cerita.

***
SAYA pernah membaca The Absence of Mr. Glass dalam bahasa Indonesia. Ketiadaan Mr. Glass. Cerpen karangan G.K Chesterton yang pertama kali dipublikasikan di McClure’s Magazine pada November 1912 itu, menurut saya, terasa agak tak menarik lagi jika dibaca di zaman ini. Alih-alih seperti Sherlcok Holmes yang dapat mengidentifikasi karakter seseorang melalui berbagai metode pengamatan yang dapat diterima pembaca, Pastor Brown, tokoh detektif rekaan Chesterton, dalam cerpen tersebut, sekali lagi menurut saya, justru tampak seperti malaikat yang bisa mengetahui hanya dengan beberapa pengamatan atau dengan metode intuisi. Dalam cerpen itu diceritakan bahwa Pastor Brown mendatangi Dr. Hood. Dia minta tolong kepada dokter yang bisa berdeduksi itu untuk menangani sebuah kasus asmara. Maggie MacNab dan Todhunter ingin menikah tapi ibu dari gadis itu tidak akan membiarkan mereka bertunangan. Todhunter tinggal di penginapan milik ibu Maggie. Kita tahu kamar lelaki tersebut menyimpan misteri. Cerita menjelaskan mengenai dua suara yang terdengar berbicara di dalam, tapi ketika pintu dibuka, Todhunter selalu didapati sendirian.
Suatu waktu Maggie mendapati Todhunter terbaring di kamar. Ia segera meminta bantuan kepada dua orang tersebut. Maggie menjelaskan bahwa lelaki itu dibunuh. Sebelumnya, dari luar, ia telah mendengar dua suara yang berbicara dalam kamar lelaki itu. Yang pertama ialah suara Todhunter. Yang terakhir ialah suara dari seseorang bernama Mr. Glass. Ia tahu karena mendengar Todhunter menyebut-nyebut nama itu. Di kamar, tak hanya terdapat seorang lelaki yang terbaring dengan syal terikat di mulutnya dan tujuh utas tali yang terbuhul melingkari siku dan pergelangan kakinya, tapi juga dua buah gelas untuk minum anggur yang berdiri di atas meja, topi tinggi sutra yang menggelinding, dan pisau atau sebilah pedang yang tergeletak.
Sang dokter bersikeras topi itu milik Mr. Glass. Dan Mr. Glass telah pergi membawa luka di bagian tubuhnya, sebab ada sedikit darah di pisau tapi tak didapati tanda-tanda luka di tubuh Todhunter. Dia juga berpendapat bahwa Todhunter sendirilah yang membuat simpul-simpul tali itu (Ini benar!) Dan pada akhirnya, Pastor Brownlah yang dapat mengetahui fakta yang sesungguhnya melalui intuisinya—mengalahkan metode deduksi rivalnya. Dia mengatakan Mr. Glass sebenarnya tak pernah hadir. Singkatnya, pedang, pisau, gelas, topi, dan tali adalah peranti. Todhunter sedang belajar menjadi seorang pesulap profesional, sekaligus seorang juggler, juga ventriloquis, dan seorang yang ahli dalam trik menggunakan tali.
Juggling, singkatnya, adalah sebuah atraksi melempar objek. Todhunter melempar gelas sambil mengatakan ‘Mr. Glass’, atau yang lebih tepatnya adalah miss Glass—luput satu gelas. Juggling juga menjelaskan tentang darah di pisau. Todhunter menelan pisau tersebut. “Berhubung masih dalam tahap latihan, bagian tenggorokannya tergores sedikit oleh senjata itu,” jelas pastor Brown dalam hal. 24 dalam The Adventures of Detective Brown terbitan VisiMedia. Sedangkan Ventriloquisme adalah seni berbicara dengan suara perut. Todhunter berbicara dengan suara aslinya, lalu menjawab dirinya sendiri dengan suara palsu. Dan tak lama kemudian, semua orang tertawa. Sosok itu melepaskan dirinya dari ikatan dan melangkah maju, membungkuk, dan mengeluarkan sesuatu dari sakunya: Sebuah poster yang mengumumkan bahwa akan ada pertunjukan sulap dan hiburan lainnya di Empire Pavilion.
Kesimpulan yang bisa kita ambil dari cepen itu: Cerpen tersebut tampak menarik. Tapi di abad ke-21 ini, di mana teknologi sudah berani dengan lantang dan terang-terangan merambati pelosok perdesaan, jika kita menulis cerita dengan penyelesaian kasus seperti cerita itu, kemungkinan besar kita akan jadi bahan tertawaan bagi pembaca. Yang lebih buruk lagi, kita bisa dianggap membodohi pembaca. Cerpen tersebut tampak menarik pada zamannya. Tapi, di situ terlihat bahwa penulis seolah-olah hanya ingin memberitahu pembaca mengenai kehebatan tokoh fiksinya; dengan kehadirkan Pastor Brown, berakhirlah semua masalah. Seolah-olah saksi-saksi tak diperlukan lagi.
Lalu, bagaimana caranya menulis cerita detektif yang bisa kuat bertahan—mungkin tak perlu melawan—perkembangan zaman? Maka untuk itu, saya akan membagikan tiga tips singkat, sambil pelan-pelan mengakhiri artikel ini.

1) Belajar dari ahlinya.
Sherlock Holmes, Hercule Poirot, Miss Marple adalah contoh dari tokoh-tokoh fiksi yang bisa bertahan selama ini. Belajarlah dari ahlinya; mereka yang telah menulis cerita yang menampilkan tokoh-tokoh tersebut. Belajarlah bagaimana mereka meletakkan petunjuk. Belajarlah bagaimana mereka menghibur pembaca dengan menghadirkan deduksi yang dapat diterima nalar. Dan, tentu saja, jangan lupa untuk menambah daftar bacaan Anda; buku-buku detektif, non-stop action, ataupun misteri.

2) Jangan membodohi pembaca.
Dalam cerita detektif, kita seringkali mendapati sebuah kasus pembunuhan yang ‘biasa’. Dan barangkali kita benci menjadi ‘luar biasa’. Ada sebuah pembunuhan. Yang dibunuh adalah orang bernama A. Orang yang paling dicurigai adalah si B. Yang diselidiki adalah orang-orang bernama D, E, F, G, juga B. Eh, ternyata yang jadi tersangka malah seorang C. Apakah kasus yang demikian itu kerap terjadi di dunia nyata? Faktanya: Terkadang jalannya pembunuhan di dunia nyata tidak serumit cerita detektif. Dengan demikian, berpikir realistis juga tetap diperlukan dalam menulis cerita-cerita tersebut.

3) Hadirkanlah sebuah inovasi.
Seiring kemajuan zaman, pembaca akan mengharapkan datangnya cerita dengan tema yang lebih menarik lagi dari sebelumnya. Sebuah thriller yang memukau. Dengan kata lain, sebuah kisah detektif yang tak lagi melulu bercerita pengusutan mengenai siapa yang membunuh dan siapa yang terbunuh.

ARIF SYAHERTIAN
TULUNGAGUNG, EAST JAVA
Telah selesai ditulis pada 17 – 11 – 2016