Atensi terhadap Wayang

Aku sering kali membuka kembali buku bahasa jawaku. Seperti layang-layang yang terputus dari talinya, melayanglah pikiranku ke beberapa tahun silam; ketika siang itu, kakekku, yang baru saja pulang berpergian, membawakanku beberapa wayang—kardus. Dan aku, seperti anak-anak kecil lainnya, segera menyambutnya dengan bahagia. Keesokan harinya, aku memutuskan untuk membuat sebuah cempala*) sendiri, dan mulai mendalang.

Waktu itu pertengahan Juni, kami–aku dan temanku–telah memutuskan untuk melihat pertunjukan wayang kulit di lapangan PEMA, Ngunut, Tulungagung. Dalangnya merupakan dalang kesukaanku dan jarang berkunjung ke Tulungagung. Malam itu hujan turun. Bintang-bintang tertutup awan–menandakan sudah tak ada lagi harapan. Pak Supri, saudaraku, tinggal di sekitar lapangan PEMA. Dialah yang mengajakku untuk melihat pertunjukan. Tiga puluh lima menit berlalu. Hujan semakin deras. Dalam hati, aku marah pada hujan dan Tuhan. “Ayo nekat, pakai jas hujan,” kataku pada temanku sambil meraih jas hujan di kursi, lalu bergegas naik motor.
Kami masih harus menempuh jarak sepanjang kira-kira dua puluh lima kilometer lagi sewaktu jalanan perlahan menunjukkan kelicinannya, seakan ditumpahi oli. Beberapa orang masih berteduh di emperan toko-toko yang sudah tutup.

Cuaca telah berganti gerimis ketika kami tiba di lapangan PEMA Ngunut yang bagai lautan manusia itu. Para penjual “kacang-air minum-rokok” duduk-duduk di kursi di samping gerobak mereka, bermandikan cahaya lampu neon dan petromaks. Para penjual alas tikar—terbuat dari plastik—berkeliling menawarkan tikarnya. Jika seorang pengamat berdiri memandang ke selatan, tujuh meter dari panggung pagelaran, ia akan melihat seorang penjual obat-obatan yang tengah mempromosikan barang dagangannya. Penjual tersebut berbicara dengan suara agak cepat dan intonasi yang jelas, melalui sebuah microphone, seperti seorang pemimpin partai yang ahli berpidato. Akhirnya, kami duduk-duduk di lapangan, dengan sandal sebagai alas, sambil menyulut rokok, dan memandang ke layar proyektor wayang. Rumput masih basah. Cuaca sedikit gerimis. Angin malam mengembus dan menusuk.
Aku baru saja hendak berdiri ketika pamanku menepuk pundakku dari belakang, lalu mengajak kami berjalan menuju kursi para tamu undangan. Sebelumnya, kami telah berputar-putar mencarinya, tetapi tidak ketemu.

Semua orang menikmati pagelaran wayang. Dari anak hingga orang tua. Beberapa orang mengenakan batik dan songkok. Kami berempat tengah bercakap-cakap saat seorang penjual kopi menawarkan kopinya pada kami. Paman memesankan kami kopi. Beberapa saat kemudian, aku sudah menyuruput kopi lalu menyulut rokok lagi. Di saat-saat seperti itu, aku merasakan kebahagiaan mengalir deras di persendianku. Aku bahagia bisa berkumpul bersama sekaligus menikmati suara gamelan. Sungguh. Di lain sisi, aku merasa malu karena telah marah kepada Tuhan. Aku bersyukur bisa tiba dengan selamat setelah berjuang melawan derasnya air hujan. Aku percaya bahwa rencana Tuhan itu indah.
Pembaca mungkin menganggap hujan itu menyebalkan. Tetapi, hujan terkadang merupakan salah satu berkah dari Tuhan, kan?

Dalang kesukaanku adalah Anom Suroto. Dan juga anaknya, Ki Bayu Pamungkas. Merekalah yang telah banyak menginspirasiku–memberi warna dalam hidupku.

Mungkinkah dengan memberiku wayang, kakekku sekaligus memberiku semacam tanda bahwa jangan pernah lupa akan wayang?

*) Cempala adalah pegangan yang terbuat dari kayu untuk memukul kotak wayang

Arif Syahertian
27-03-2015
Tulungagung

Advertisements

Author: A. Syahertian

Senang menulis cerpen.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s