ADA PER(BEDA)AN DI ANTARA KITA

Kamu berkulit hitam, aku sawo matang. Kamu suka menggambar, aku suka menulis. Kamu suka musik Pop, aku suka musik Rock. Kamu tahu itu. Sungguh aku takkan memaksamu untuk menjadi sepertiku. Kita selalu menyukai menjadi diri sendiri sekaligus membenci segala bentuk diskriminasi.

–Arif Marin Syahertian; 060915.

ADA AURORA DI SEKITAR KITA

kehadiranmu adalah aurora yang menyimpan rindu dan
menyala-nyala
kebaikanmu adalah semacam getaran yang mengalir
di seluruh persendian

suatu malam cahayamu menyinari mimpi
dan membekaskan sebuah impresi
hingga perempuan itu terbangun dengan gelisah
di tengah malam yang sunyi

sejak kejadian itu
setiap malam ia hanya menghitung bintang
padahal aurora telah menjauh
dan menghilang

Arif Syahertian
04-09-2015
Tulungagung, Jawa Timur.

ADA BAHAYA DI SEKITAR KITA

ada bahaya di sekitar kita
yang seringkali memaksa kita
untuk merasa takut padanya

apakah kau takut pada bahaya
bahaya adalah ujian melawan ketakutan
maka injakkan kakimu menuju ke bara api itu

ada bahaya di sekitar kita
yang seringkali minta perhatian
pada sulutan api keberanian

apakah kau takut pada bahaya
bahaya adalah pekerjaan
maka janganlah takut pada todongan pistol
pistol juga bisa berarti ujian
maka lakukanlah secara profesional

barangkali kita telah tertipu
dan kita tak pernah benar-benar tahu
bahwa senjata tersebut
sedang tidak diisi peluru

31-08-2015
Arif Syahertian
Tulungagung, Jawa Timur.

LOOK BACK AND LAUGH

Catatan ini hanyalah semacam tanda bahwa aku pernah melewati apa yang telah berlalu dari hari ini. Maka aku tak perlu menghapusnya, sebab supaya kelak aku bisa menengoknya kembali. Tetapi aku tak ingin menjadi orang yang memandang ke belakang, “look back”.
Maka bila suatu hari aku memperbaharui banyak dari tulisan ini–bahkan menghapusnya–maka aku bisa masuk ke dalam kategori orang yang memandang ke belakang, “look back”. Hmmm.
Masa lalu terasa menarik untuk ditulis kembali. Begitulah.
Seperti sebuah lirik milik Linkin Park dalam lagu Blackout.
“a future gazing out / a past to overwrite.”

Memang tanda tak harus diabadikan ke dalam bentuk catatan. Kalau sebuah grup band mengabadikannya ke dalam bentuk suara, aku lebih suka untuk mengenangnya dengan mengabadikannya melalui kata-kata, melalui bahasa…
Bahasa, kata Goenawan Mohamad dalam Tiga Huruf, adalah perekam.
“Itulah sebabnya,” lanjutnya, “catatan harian ditulis, pengalaman dikisahkan, puisi digubah.”

Aku teringat kata-kata George C. Marshall, “When a thing is done, it’s done. Don’t look back. Look forward to your next objective.”
Dengan demikian, kita dapat menyimpulkan bahwa catatan hari ini adalah milik hari ini. Dan karena sudah selesai, “it’s done”, maka ini saatnya untuk berkonsentrasi melihat ke depan.
Sebab, “kita tidak mungkin melihat ke depan sambil melihat ke belakang.” Kira-kira begitulah kata Ludwig Mies van der Rohe, seorang arsitek dari Jerman itu.

NB: Judul di atas terinspirasi oleh salah satu lagu milik Minor Threat, Look Back and Laugh.

Arif Syahertian
29-08-2015
Tulungagung, Jawa Timur.

MEDAN PERANG

Tak ada lagi tempat berteduh bagi kita yang telah saling menjauh. Kau tak lagi mendengarkanku bercerita. Aku tak lagi melihatmu tertawa.
Tak ada lagi pertemuan bagi kita yang telah lelah berjalan. Kau tak lagi melihatku bermain sepak bola di halaman sekolah. Aku tak lagi melihatmu berjalan dengan membawa mukena ke musholla.
Tak ada lagi diskusi-diskusi bagi kita untuk menghadirkan sebuah kontemplasi. Kau tak lagi melihatku cemberut. Aku tak lagi melihat keningmu berkerut.

Sekalipun begitu, sahabatku, semua kenangan—terutama tentang jalan yang telah kita lalui dan jejak yang pernah kita tinggalkan—masih tersimpan dengan baik dalam pikiranku. Aku berharap kau juga masih menyimpannya; tentang suaraku saat bernyanyi di depan kelas, tawaku saat menggodamu, tangisku saat kalah berkelahi, senyumku saat memandang seraut wajah yang malu-malu—itu semuanya yang telah mewarnai hari-hari seorang anak kecil yang dilanda cinta secara perlahan-lahan. Cinta yang tergesa-gesa—lebih mirip dengan gairah-gairah yang tampak memburu—merupakan faktor penghancur yang akan membawa pada penyesalan di kemudian hari.

Orang tak pernah menyangka, saudaraku, bahwa kemarin kau masih tegap berdiri, sedangkan hari ini kau baru saja terlempar ke dasar lembah paling dalam. Tuhan mungkin memberikan hidup yang fluktuatif supaya manusia bisa menghargai setiap keadaan; seperti saat kita sedang sakit, barangkali kita telah lupa untuk mensyukuri bahwa selama ini kita telah diberikan kesehatan, atau seperti saat kau benar-benar merasa kesepian, barangkali kau telah banyak menyia-nyiakan kehadiran seseorang. Hari ini harus diusahakan untuk bisa jadi lebih baik dari kemarin. Itulah harapan yang, seperti pernah kaukatakan di bangku sekolah dasar, akan gumamkan—perisai sekaligus pedoman kita dalam menjalani kehidupan.

Maka jadilah orang yang berani untuk bangkit, seperti seorang prajurit yang melangkah ke medan perang, seperti seorang petualang yang gemar memburu ular di hutan.
Kau harus “cinta” pada bahaya karena medan perang itu sebuah tempat liar yang penuh godaan dan rintangan.
Kau harus peka pada setiap suara karena medan perang itu sebuah tempat di mana keberanian diuji ketika “hantu-hantu” benar-benar datang.
Kau harus berhenti melamun karena musuh-musuhmu itu bisa lebih cepat masuk ke area pertahananmu.

Seutas tali, sebagaimana sebuah pertemanan, dijalin bukan untuk diuraikan, disambung bukan untuk diputuskan. Maka, setidaknya, jadilah orang yang seimbang; bila kau lekas marah, kau mestinya juga lekas memaafkan. Dendam dan prasangka buruk adalah—dan bila keduanya senantiasa dipelihara—faktor-faktor perusak yang pelan-pelan akan menggerogoti keutuhan jiwa.

Sudah saatnya kau mulai untuk membuka lembaran baru—berhenti menyesali apa yang telah berlalu—dan memanjat tebing dengan keberanian hingga bisa keluar dari lembah penyesalan itu.

Arif Syahertian
22-08-2015
Tulungagung, Jawa Timur.

TENTANG PAGI

Pagi seringkali menghadirkan repetisi; seperti saat aku mendengarkan Linkin Park setiap pagi, atau seperti saat aku berlari dan menjemur diri di bawah matahari.

Tak hanya pengulangan, pagi seringkali menghadirkan keberuntungan-keberuntungan; bangun pagi yang membawa berkah atau rejeki. Kemudian kita bisa melihat banyak hal; petani yang tengah berangkat ke sawah, burung-burung yang hinggap di pelataran rumah, tukang becak yang mengantar seorang ibu pergi ke pasar. Atau, barangkali kita bisa melihat anak laki-laki yang berjalan dengan semangat ke sekolah. Lalu, seorang perempuan menyusulnya dengan malu-malu dari belakang.
Di saat-saat seperti itu, kita tahu bahwa di setiap pagi yang baru selalu tumbuh semangat baru—semacam harapan bahwa kita akan bisa melewati hari ini dengan lebik baik dari kemarin.

Aku sering terlupa tentang apa kata—atau kalimat—pertama yang telah kuucapkan setelah bangun tidur?
Aku sering terlupa apakah itu kalimat syukur pada Tuhan yang menandakan bahwa aku masih diberikan nafas dan kesempatan untuk “melihat” dunia dan memperbaiki kesalahan-kesalahan?

Kemarin telah kulalui—esok tetap menjadi misteri. Hari ini, aku bisa melihat dua anak kecil tengah berjalan sambil mengobrol dan tertawa bersama.

Untuk dirimu yang telah melewati malam dengan sabar, kini saatnya kau bangun dengan kemenangan.

Arif Syahertian
07-08-2015
Tulungagung, Jawa Timur.T

TANTANGAN

Kadang-kadang perilaku sahabat kita begitu mengecewakan—tak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Tetapi itulah tantangan yang menarik bagi manusia. Sebuah tantangan yang mengajari kita untuk tidak menuntut secara berlebihan—berani menerima segala kekurangan.
—Arif Syahertian; 01-08-2015.